“Jangan engkau ikuti hawa nafsumu, karena ia akan menyesatkan dirimu dari jalan Allah” (QS. Shad: 26)

“Musuhmu yg harus kamu lawan adalah nafsu yg ada di dalam dirimu” (HR. Baihaqi)

“Apakah engkau mengetahui orang2 yg mempertuhankan hawa nafsunya dan Allah membiarkan sesat sesudah ia tahu” (QS. Al Jatsiyah: 23)

Apabila dalam diri ini sudah memper-tuhan-kan hawa nafsu, maka perbuatan2 jahat akan mudah ter-manifestasi dalam berbagai bentuk, antara lain:

  • Mencela orang lain, bahkan kalau kurang puas dg hanya mencela, akan diteruskan dg menyerang dan membunuh orang tsb. Dalam lingkup yg lebih besar adalah peperangan yg tidak dilandasi kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya. Dalam Islam, peperangan diupayakan untuk tidak saling membunuh, apalagi memusnahkan. Peperangan dalam Islam hanyalah untuk mempertahankan diri dan untuk meluruskan kebengkokan dalam perjalanan hidup dari tiap-tiap individu atau kelompok manusia.
  • Zina, bahkan kalau wanita pilihannya dirampas orang lain, terjadilah perkelahian karena kecemburuan yg kemudian terjadilah pembunuhan. Disamping terjadinya hal hina seperti itu, zina juga akan merusak kesehatan dan keturunan.
  • Judi, bahkan setelah memanas karena kalah, lalu terjadilah per-cek-cok-an mulut, lantas berantem. Kurang puas dg berantem, terjadilah saling membunuh untuk mencari kemenangan sebagaimana judi itu sendiri untuk mencari menang.

Walaupun hawa nafsu itu berada dalam diri kita sendiri, tetapi syaithan yg berada di luar diri/jiwa, peranannya sangat potensial. Justru di dalam nafsu itulah syaithan lebih berkuasa menghembuskan bisik rayu yg sangat merugikan diri kita sendiri. Kalau tidak mewaspadai perilaku syaithan secara cermat, dapat dipastikan akan terhanyut ke dalam kelompoknya. Bahayanya peran syaithan kalau sudah terkait dg nafsu2 atribut yg berada di dalam fujur, akan sangat sulit untuk menghindarinya.

“Demi nafsi yg disempurnakan ciptaannya, maka Dia mengilhamkan kepada nafsi itu kefasikan dan ketaqwaan” (QS. Asy Syams: 7-8)

Peran syaithan pada fujur tempat nafsi2 tercela :

  1. Pada nafsi amarah
    Nafsi amarah itu sendiri memiliki watak yg jahat, seperti:
    “Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu.” (QS. Yusuf: 35).
    Kalau seseorang sedang marah maka syaithan datang menambah amarahnya. Telinga menjadi merah, matapun juga memerah. Dalam situasi seperti itu, syaithan berada di mata yg merah tadi, lalu orang tsb akan dipermainkan seperti anak kecil yg sedang bermain bola. Posisi seperti itu sangat berbahaya, kalau syaithan memerintahkannya untuk membunuh orang, maka dia akan melakukannya. Dia sudah benar2 pada kendali syaithan. Apapun yg diperintahkan olehnya, 100% akan dilakukan oleh orang tersebut.
  2. Pada nafsi lawwamah
    Nafsi lawwamah memiliki watak menyesali diri atas perbuatan kurang baik yg baru dilakukannya, seperti:
    “dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)” (QS. Al Qiyamah: 2)
    Dan kalau sudah dipengaruhi syaithan, akan termanifestasi sifat mencaci-maki orang lain, sok menang sendiri, dan sok merasa yg paling baik dari orang lain.
  3. Pada nafsi musawwilah
    Nafsi musawwilah memiliki watak egois.
    “Samiri menjawab: ‘Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku’” (QS. Thaha: 96).
    “Ya`qub berkata: ‘Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu.’” (QS. Yusuf: 83).
    Kalau nafsi ini dipengaruhi oleh syaithan, maka termanifestasi sifat sombong, sok merasa sebagai orang terpandang dari keturunan orang besar dan kaya. Seperti soknya Iblis ketika itu: “Aku lebih baik daripada dia, Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah” (QS. Al A’raaf: 12)

Bila kita dapat menguasai dan mengendalikan musuh2 kita yang sangat berbahaya itu, dengan tuntunan yang datangnya dari Allah dan Nabi-Nya dengan sungguh2, maka bisa dipastikan hijab2 yang menghijab bathin kita yang disebabkan oleh musuh2 tersebut (dunia-syaithan-nafsu), akan dapat terbuka lebar bahkan sirna dari dalam hati kita.

Dengan demikian hubungan kita dengan Allah sang Maha Raja yang menciptakan diri kita ini bisa akrab, dekat dan semakin dekat, lalu kita dibimbing untuk datang mengenal Diri Pribadi-Nya Yang Maha Agung, Maha Mulia, Maha Esa dalam ke-Sendirian-Nya dan ke-Sederhanaan-Nya, maka disitulah kita bisa dikategorikan sebagai insan yang mampu mengemban amanat yang berintikan ma’rifat dan tauhid murni.

Itulah diri kita yang dimuliakan dari makhluk ciptaan-Nya yang lain, dan kita punya arti di sisi Allah sebagai hamba yang sering dipanggil oleh-Nya dengan panggilan: “Hai hamba-Ku yang beriman berdzikirlah kepada-Ku dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya”.

Sumber: Latiful-Qalb ‘Ciptaan-Nya’ oleh H.MNA

Leave a Reply