Aku Maha berilmu, cinta kepada orang-orang yang berilmu
30 November 2007
Ilmu bisa diartikan “suatu substansi yang dapat mengetahui hakekat sesuatu” dengan kalimat “suatu substansi” berarti ilmu itu berada di dalam diri manusia dari hasil sesuatu yang dipelajari. Sesuatu yang dipelajari yang menyebabkan seseorang mendapatkan suatu substansi. Substansi yang diperolehnya, bisa mengendap dalam fikir ataupun dalam aqal, bisa juga mengendap dalam qolbu bagi para ulama (orang-orang alim). Potensial tidaknya endapan suatu substansi tadi, adalah tergantung pada cerdas dan tidaknya fikir seseorang yang diendapi oleh ilmu itu. Kecerdasan merupakan wadah untuk menampung ilmu yang dipelajari oleh fikir atau diserap oleh aqal. Kecerdasan bukanlah ilmu, tapi ia merupakan tempat untuk menampung ilmu atau menampung endapan suatu substansi.
Bila ilmu itu diartikan sebagai “pengetahuan” maka pengetahuan itu adalah sesuatu yang bisa melihat. Dari sini ilmu bisa diartikan: “Suatu substansi cahaya” karena tanpa cahaya, sesuatu tadi tak mungkin dapat dilihat, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa: “Ilmu adalah suatu substansi cahaya penglihatan yang berada di dalam bathin“.
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu langsung dari hati seseorang, tetapi dicabutnya ilmu itu dengan matinya ulama” (R. Abu Laits dari Abdullah Ibn Amr ra)
Dari hadist tersebut memperjelas bahwa ilmu ada di dalam bathin. Walaupun substansi cahaya penglihatan itu dihasilkan dari belajar atau sesuatu yang dipelajari, namun pada hakekatnya substansi cahaya penglihatan itu anugerah dari Allah yang diberikan kepada seseorang yang dikehendaki-Nya. Seseorang yang telah mendapatkan ilmu, disebut ahli ilmu, selama ilmu itu diamalkan sebagaimana mestinya. Sebaliknya bila ilmu itu disalahgunakan kemanfaatannya, maka ilmu itu akan terhapus dari dalam dadanya.
Bila ilmu yang dipelajari itu adalah ilmu agama Islam, ada beberapa hadist yang mendorong kita untuk memperdalam agama Islam, diantaranya:
“Siapa yang berjalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya berjalan dijalan-jalan ke surga” (R. Abu Laits dari Abu Darda’ ra)
“Sesungguhnya ilmu itu merupakan jalan untuk mencapai tingkat-tingkat di surga” (R. Abu Laits dari Mu’adz bin Jabal ra)
“Penuntut ilmu itu adalah kekasih Allah” (R. Abu Laits dari Saied Al-Khudary ra)
Fikir adalah potensi metafisika yang berada di otak, dicipta oleh Allah untuk memanifestasikan ilmu yang datangnya dari-Nya ke dalam dimensi empiris, walaupun tampaknya hasil dari belajar atau sesuatu yang dipelajari, karena itu, apabila ilmu atau substansi cahaya penglihatan ini mengendap ke dalam fikir, maka ilmu ini akan dimanifestasikan ke dalam dimensi empiris yang dapat di-indera oleh penglihatan, bukan oleh mata, karena ada mata yang tidak memiliki daya lihat, namun salurannya memang lewat mata. Misalnya seperti ilmu bela diri, ilmu lukis, ilmu pembuatan barang, baik itu peralatan angkutan darat, laut, udara maupun peralatan perang, peralatan rumah tangga dan lain sebagainya.
Aqal dicipta oleh Allah, untuk pembeda dan memilih sesuatu yang hak dan yang bathil, yang perintah dan larangan, berkisar pada dimensi Islam. Aqal dan Islam terdapat hubungan timbal-balik, dimana aqal tidak ada artinya tanpa adanya Islam seperti halnya mata tanpa cahaya. Karena itu apabila ilmu itu mengendap ke dalam aqal, maka ia akan dianalisa dan didesain untuk diwujudkan ke dalam ilmu ke-Tuhan-an pada dimensi Islam. Bagi pemilik aqal ia mendapat sebutan “Ulul Albab”. Aqal mendesain ilmu ke dalam dimensi Islam, seolah-olah aqal ini telah mengetahui bahwa pada hakekatnya ilmu itu datangnya dari Allah sebagai pencipta Islam dan aqal, walaupun terlihat hasil dari belajar atau menyerap suatu pelajaran.
Bila ilmu itu terserap oleh qolbu (dalam hal ini qolbu Robbaniah), maka ilmu itu akan menggerakkan potensi-potensi metafisika yang ada di dalam qolbu agar berfungsi sesuai dengan tugasnya, yang dibebankan oleh masing-masing potensi-potensi itu. Apabila ilmu atau substansi cahaya penglihatan ini berpadu dengan substansi kecerdasan iman, maka keterpaduan ini akan menghasilkan suatu makrifat yang tinggi, yang akan meningkatkan derajat tinggi bagi individu pemiliknya.
“Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS. Mujadalah: 11)
Untuk itu Allah mengatakan: “Aku Maha Berilmu, cinta pada orang yang berilmu” (Duratun Nasihin)
Dengan uraian di atas, maka dapat difahami secara jelas, bahwa “Ilmu adalah substansi cahaya penglihatan yang berada di dalam bathin” yang didapatkan dari mempelajari suatu materi. Walaupun tampaknya didapatkan dari mempelajari suatu materi, namun pada hakekatnya ilmu itupun datangnya dari Allah, hanya saja memang Allah menetapkan prosesnya melalui suatu substansi yang harus dipelajari. Selain adanya yang harus dipelajari, ada juga pemberian langsung dari Allah tanpa adanya suatu substansi yang harus dipelajari.
Sumber: Latiful-Qalb ‘Membuka Rahasia Ilmu’ oleh H.MNA
Dunia = musuh utama manusia
30 November 2007
Peringatan dari Allah :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah engkau dilalaikan oleh harta dan anak-anakmu untuk berdzikir kepada Allah“
(QS. Al Munafiqun: 9)
“Dunia ini terlaknat dan isinya penterlaknat pula, kecuali yang berdzikir kepada Allah serta mengikuti dzikir tadi, juga orang yang berilmu agama serta orang yang menuntut ilmu agama tadi terbebas dari laknat“
(HR Turmidzi)
Ambillah pengertian dari ayat dan hadist di atas, yang berarti kita telah memperoleh pengertian-pengertian terdalam dari ayat-ayat Allah dalam kitab suci Al Qur’an. Mendalami sampai mencapai titik cinta kepada-Nya. Dengan perasaan cinta pada-Nya, paling tidak, kita telah menghindarkan diri dari cinta dunia secara berlebihan, sehingga dengan demikian kita akan terlindungi dari pengaruh dan godaan dunia yang berlebihan.
Hanya orang-orang yang cinta kepada Allah sajalah yang dapat menghindarkan dirinya dari pengaruh dunia secara berlebihan. Hal ini tidak berarti kita tidak boleh memiliki kekayaan. Bukan demikian maksudnya.. tetapi kita hendaknya waspada terhadap kekayaan yang kita miliki, jangan sampai kekayaan itu justru akan membawa bencana bagi kehidupan kita di akhirat nanti. Setiap individu tentu sadar bahwa dirinya sangat membutuhkan kekayaan duniawi, namun harus disadari bahwa kebutuhan yang amat berlebihan itu sangatlah berbahaya, karena dia adalah musuh yang akan menjerumuskan pemiliknya ke dalam neraka. Oleh karena itu hendaklah waspada dengan kewaspadaan penuh agar jangan sampai tertipu olehnya (dunia).
Menurut kebiasaannya, musuh kita itu (dunia) akan mengambil berbagai bentuk tipuan antara lain:
- Berpura-pura akan tetap bersama kita, namun kenyataannya perlahan-lahan akan menyingkir dan meninggalkan kita serta menyampaikan salam perpisahan. Seperti halnya bayangan yang tampaknya tetap, ternyata selalu saja bergerak meninggalkan kita yang sedang memperhatikan bayangan.
- Dibalik kedok wajah nenek sihir yang berseri-seri, berpura-pura cinta kepada kita, namun akhirnya berbelok menjadi musuh bagi kita, meninggalkan kita dalam keadaan mati merana, karena tak dapat melepaskan diri dari derita siksa neraka yang amat pedih. Akibat cinta kita padanya secara berlebihan sampai melupakan bakti kepada Allah.
Nenek sihir ini pernah ditanya oleh Nabi Isa as : “berapa suamimu?“, jawabnya: “tak terhitung“, ditanya lagi: “mereka telah mati atau kamu ceraikan?“, jawabnya: “mereka kami penggal semuanya“.
Rasulullah saw pernah bersabda tentang nenek sihir ini: “Di hari pengadilan, dunia (bukan bumi) ini dalam bentuk nenek sihir yang seram wajahnya, matanya hijau, giginya bertonjolan. Orang-orang yang melihatnya berkata: ‘ampun siapa ini?’, jawab malaikat: ‘inilah dunia yang engkau jadikan ajang perebutan, peperangan, perkelahian, saling bunuh membunuh dan merusakkan kehidupan yang satu dengan yang lainnya’”. Selanjutnya Rasulullah saw berkata: “kemudian nenek itu dicampakkan ke dalam neraka sambil menjerit sekeras-kerasnya dan berkata: ‘dimana pecinta-pecintaku dahulu?’, kemudian Allah memerintahkan melemparkan manusia-manusia yang mencintainya ke dalam neraka bersama-sama“.
Renungkan sedalam-dalamnya nenek sihir yang diceritakan oleh Nabi saw tersebut, kebenarannya sudah pasti akan terjadi apabila kita pelaku pecinta dunia. Karena itu waspadalah tipu daya duniawi, karena bahayanya sangat besar, bahkan mampu membuat kita kufur dan sesat.
Untuk itu janganlah kita mencintai dunia ini secara berlebihan, tapi cintailah yang memberi dunia itu, karena kepada-Nya-lah kita akan kembali.
“Pada suatu hari dimana harta dan anak-anak tidak berguna lagi kecuali bagi orang-orang yang menghadap kepada Allah dengan hati yang bersih dan didekatkan surga bagi mereka yang bertaqwa“
(QS. Asy Syu’ara: 88-90)
Al Qur’an memberikan indikasi bahwa tidaklah perlu kita berbangga-bangga dengan kekayaan dunia yang melimpah ruah, jika demikian indikasinya, maka ambillah sikap ke arah mana harta itu harus dibelanjakan disamping harus kita penuhi terlebih dahulu kebutuhan rumah tangga kita, demikian juga terhadap kebutuhan anak-anak kita termasuk sikap kita yang jelas dalam mendidiknya agar menjadi anak yang sholeh dan peningkatan iman yang telah ada dalam manifestasi ke-taqwa-annya.
Selanjutnya sikap bagi kita terus upayakan membersihkan hati bersamaan dengan kekayaan yang kita miliki. Kekayaan dapat kita bersihkan melalui pemenuhan kewajiban zakat dan shodaqoh-shodaqoh yang lain, bagi hati dapat dibersihkan dengan ber-dzikir serta bertasbih tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu melalui sarana sholat tahajud. Dengan sikap demikian secara otomatis kita akan memiliki pengertian terdalam tentang posisi dunia yang akan dihancurkan oleh Allah (bukan buminya yang dihancurkan). Bila kita sudah mencapai pengertian yang dalam tentang posisi dunia ini, maka alihkan perhatian kita ke arah bathin khususnya hati, yang selama ini disibukkan oleh kepentingan dunia melulu. Hati kita, kita bersihkan sedemikian rupa sampai mencapai qobun salim. Qolbun Salim adalah qolbu yang penuh kedamaian, suci dan bersih, menjadikan diri kita sebagai makhluk ciptaan yang dimuliakan oleh Allah sekaligus menjadi penduduk surga.
“dan didekatkan surga bagi orang-orang yang bertaqwa“
(QS. Asy Syu’ara: 90)
Dengan taqwa itu pula kita secara otomatis menjadikan harta dunia yang kita miliki menjadi kebun di akhirat dan tidak akan kita jadikan sebagai bahan bakar buat diri kita, dengan demikian kita telah diselamatkan oleh Allah. Untuk itu perbanyaklah rasa syukur kepada-Nya.
“Kehidupan dunia ini hanyalah senda gurau dan permainan belaka, karenanya jangan sampai kalian ditipu oleh kehidupan dunia“
(QS. Al Ankabut: 64. QS. Luqman: 33)
Sumber: Latiful-Qalb ‘Ciptaan-Nya’ oleh H.MNA
Benarkah Bumi mengelilingi matahari?
30 November 2007
saya lebih percaya bahwa matahari tidak mengelilingi bumi. pun juga sebaliknya, bumi tidak mengeliling matahari. hakikinya matahari terbit (lahir/muncul) dari timur dan terbenam (tenggelam) di barat.
Nabi SAW bersabda: “Sungguh Allah telah memperlihatkan bumi kepadaku, lalu aku melihat timur dan baratnya” (HR. Muslim)
QS. Al Kahfi: 86 “hingga ia (Zulkarnain) sampai ke tempat terbenamnya matahari, lalu ia melihat matahari terbenam ke dalam mata air lumpur yang hitam. Disana ia bertemu dengan satu umat (yang masih primitif). Kami ilhamkan: “hai Zulkarnaen! kamu boleh menyiksa mereka atau engkau boleh berbuat baik kepada mereka“
QS. Al Kahfi: 90 “Akhirnya ia sampai di tempat terbitnya matahari, dilihatnya matahari menerangi suatu kaum yang belum berpakaian“
Tanda kiamat: “Sesungguhnya tanda yang pertama ialah terbitnya matahari dari barat atau binatang Daabah, yang satu dibelakang yang lain, kemudian Nabi menerangkan: yang demikian itu, bahwa tiap matahari terbenam, ia sujud di bawah Arsy, kemudian minta izin untuk terbit, lalu tidak diizinkan hingga bila Allah menghendaki terbit dari barat. Maka ketika ia sujud di bawah Arsy lalu minta izin untuk terbit, tidak diizinkan, kemudian minta izin lagi, juga tidak diizinkan, sehingga ia merasa umpama diizinkan sudah tidak akan sampai ke ujung timur (tempat terbitnya) lalu ia berkata: Ya tuhan alangkah jauhku dari manusia. Dan ketika pada malam hari ia kembali minta izin, lalu diperintah: Terbitlah dari tempatmu.” (HR. Abu Laits dg sanad dari Abu Zar’ah dari Amr mendengar cerita dari Marwah tentang tanda-tanda kiamat).
Dari Abu Dzar ra. berkata: “Nabi SAW berkata kepadaku ketika matahari terbenam: Tahukah kamu, kemanakah matahari itu pergi?. Saya menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: Sesungguhnya matahari itu pergi sambil sujud di bawah Arsy, lalu ia minta izin dan diberi izin dan dikatakan kepadanya: Kembalilah ke tempat kamu datang kepada-Ku. Lalu ia terbit dari tempat terbenamnya (barat).“
Allah Maha Kaya dan Maha Pencipta. bukan hal yang sulit bagi Allah menciptakan matahari dalam jumlah banyak (telah diukur-Nya) dengan bentuk dan rupa yang sama persis dengan sebelum-sebelumnya dan terbit/lahir dari timur lalu terbenam di barat setiap harinya.
QS. An-Naml: 12 “Dan Dia menyerahkan kepadamu malam dan siang, matahari dan bulan“
QS. Anbiyaa: 33 “Dialah yang menciptakan siang dan malam serta matahari dan bulan“
QS. Yaasin: 40 “Matahari tidak mungkin menyusul bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang dan masing-masing berjalan pada garisnya“
datangnya siang bukan karena terbitnya matahari dan datangnya malam bukan karena ditinggalkan matahari. malam dan siang dicipta sebelum bumi dicipta-Nya. secara logika, karena bumi adalah tempat terbit-terbenamnya matahari, maka tentu bumi-Nya harus ada dulu (sama halnya Nabi Adam as dicipta dari unsur-unsur tanah bumi, yang tentu buminya harus ada dulu baru kemudian proses selanjutnya Allah menciptakan Nabi Adam as). Setelah itu matahari dimasukkan-Nya ke dalam siang dan bulan ke dalam malam.
QS. An Naazi’at: 29-30 “Dijadikan-Nya malam gelap gulita dan siang terang benderang dan sesudah itu Dia hamparkan bumi.“
semasa SD sd SMA dulu, saya percaya saja dg apa yg dikatakan oleh buku-buku pelajaran dan para guru bahwa bumi ini bulat dan berputar pada porosnya. tetapi setelah mencari-cari keterangan itu di Qur’an dan hadist, koq nggak ada yang menyebutkan demikian? siapa yang keliru? terus terang saya tidak berani berdalih terhadap Qur’an dan hadist. berulang-ulang Allah mengatakan dengan ayat-ayat-Nya dalam Al-Qur’an bahwa bumi ini dihamparkan (seperti halnya karpet yang dihamparkan) dan tidak bergerak (tidak berputar pada porosnya).
QS. An Naba’: 6-7 “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan (bukan bulatan) dan gunung-gunung sebagai pakunya (agar tidak bergerak)“
Imam Ghazali berkata: “Seandainya bumi ini bergetar dan bergerak, maka semua manusia tidak akan dapat mengerjakan pekerjaan dengan teliti, baik yang menyangkut tumbuh-tumbuhan maupun industri. Perhatikan hal itu pada gempa-gempa yang seringkali menimpa manusia dan memberikan perasaan takut bagi mereka agar bertaqwa kepada Allah“
QS. Ath Thalaq: 12 “Sesungguhnya Allah telah menciptakan tujuh langit dan bumi seperti itu pula.“
Sewaktu Abdullah bin Salam bertanya kepada Nabi SAW: “Dengan apa bumi ini bisa tenang?“, jawab Nabi SAW: “dengan beberapa gunung“, pertanyaan berikutnya: “dengan apa gunung-gunung itu dikokohkan?“, jawab Nabi SAW: “Dengan gunung Qaaf yang dibuat dari Zamrud hijau dan birunya langit“, setelah itu ditanya lagi “berapa jarak tinginya dari bumi ke langit dunia?“, jawab Nabi SAW: “500 tahun perjalanan“. Pertanyaan selanjutnya tentang jarak perjalanan kiri dan kanannya dari titik tengah?, jawab Nabi SAW: “200 tahun perjalanan” dan ketika ditanyakan tentang penghuni bumi yang berlapis tujuh itu. Nabi SAW menyebutkan: “penghuni lapisan ke tujuh adalah para malaikat, penghuni lapisan ke enam adalah Iblis beserta bala tentaranya, penghuni lapisan ke lima adalah setan, penghuni lapisan ke empat adalah ular, penghuni lapisan ke tiga adalah kalajengking, penghuni lapisan ke dua adalah jin dan penghuni lapisan pertama adalah manusia“. “dan di bumi terdapat bagian-bagian yang mendampingi” (QS. Ar Ra’du: 4) “di belakang gunung Qaaf ada 70 bumi dari misik (kasturi), 70 bumi dari emas, 70 bumi dari perak, 70 bumi dari besi, 70 bumi dari Anbar, 70 bumi dari kapur. di belakangnya semua terdapat alam malaikat. tidak ada satu manusia pun yang mengetahui jumlah para malaikat ini kecuali Allah, dan mereka bertasbih dengan kalimat LAA ILAHA ILALLAAH MUHAMMAD RASULULLAH“.
hikmah yang dapat diambil dari tanya-jawab antara Nabi SAW dengan Abdullah bin Salam -seorang yahudi- telah masuk Islam berkat keterangan yang dijelaskan oleh Nabi SAW. Nabi SAW bersabda: “titik tengah bumi adalah Ka’bah“.
bumi seluruhnya adalah bumi yang berlapis tujuh ditambah 70 pendamping ditambah gunung-gunung sebagai pakunya ditambah lagi gunung Qaaf sebagai pengikatnya ditambah 500 bukit yang dibuat dari air yang dibekukan sebagai daya tahan terhadap bumi-bumi agar tidak terbakar oleh dahsyatnya api neraka yang berada di bumi lapis paling bawah. tiap satu lapis bumi ketebalannya berjarak 500 tahun perjalanan yang berpijak pada punggung angin (kita semua tau betapa kuatnya daya tahan angin. truk kontainer yang beban badannya saja sedemikian beratnya, ditambah lagi beban muatan peti kemas yang sekian jumlahnya itupun berpijak pada angin yang hanya di dalam beberapa buah ban saja).
tentu kita tau semua teori Copernicus yang menyatakan “bumi bundar, ia adalah planet yang berukuran sedang yang berputar pada porosnya selama 24 jam per hari, sekaligus berputar mengelilingi matahari per tahun 365 hari pada sekali putar“
sudah siapkah dan sudah beranikah bertanggung-jawab kepada Allah atas mana yang kita imani, teori Copernicus atau Qur’an dan hadist?
Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya
Rahasia Shalawat
30 November 2007
kata (malaikat) Jibril:
“aku akan membimbing tangannya melewati Shirat Al-Mustaqim seperti halilintar”
kata (malaikat) Mikail:
“aku akan memberikan dia tenaga”
kata (malaikat) Isrofil:
“aku tidak akan angkat sujud sebelum Allah mengampuninya”
kata (malaikat) Izroil:
“aku akan mencabut ruhnya seperti mencabut ruhnya para nabi”
Bumi yang aku pijak tidak bulat
30 November 2007
QS.71, Nuh: 19-20 “Aku ciptakan bumi sebagai hamparan agar kalian bisa berjalan dengan tenang dan tidak berguncang di jalan-jalan lebar“
QS.31, Luqman: 10 “Dan Allah jadikan bumi untukmu sebagai hamparan, agar kamu bisa berjalan di jalan-jalan yang lebar, dan dipancangkannya di bumi itu gunung menjadi pakunya agar kamu tidak berguncang“
QS.78, An Naba’: 6-7 “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan (bukan bulatan) dan gunung-gunung sebagai pakunya (agar tidak bergerak)“
QS.67, Al Mulk: 15 “Dia-lah yang telah menjadikan bumi dengan mudah kamu jalani, maka berjalanlah ke segala penjurunya“
Nabi SAW bersabda: “Sungguh Allah telah memperlihatkan bumi kepadaku, lalu aku melihat timur dan baratnya” (HR. Muslim)
QS.21, Al Anbiyaa’: 31 “Dan Kami jadikan di bumi itu gunung-gunung yang terpancang untuk mengamankan bumi, dan Kami jadikan pula di bumi itu lembah-lembah menjadi jalan agar mereka mendapat petunjuk“
QS.16, An Nahl: 15 “Dan Dia memancangkan gunung-gunung di muka bumi agar bumi itu tidak bergoncang dan Dia menjadikan sungai-sungau dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk (untuk mencari rezeki)“
QS.23, Al Mu’minuun: 18 “Kami turunkan hujan dari langit dengan ukuran, lalu Kami simpan di bumi“
QS.55, Ar Rahman: 10 “Dan Allah meratakan bumi untuk makhluk-Nya“
QS.2, Al Baqarah: 22 “Tuhan yang telah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan (sebagai tempat tinggalmu) dan langit (benda-benda langit) diperlihara sebagai atap“
QS.13, Ar Ra’du: 3 “Dan Dia-lah yang telah menghamparkan bumi dan diciptakannya gunung-gunung di bumi beserta sungai-sungainya“
QS.20, Thaha: 53 “Tuhan menjadikan bumi jadi hamparanmu, dan dijadikan-Nya jalan-jalan di muka bumi itu untukmu, dan diturunkan-Nya dari langit air hujan, maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berbagai jenis-jenis tumbuh-tumbuhan“
QS.43, Az Zukhruf: 10 “Allah yang menjadikan bumi untuk tempat tinggalmu dan dibentangkan-Nya jalan-jalan supaya kamu mendapat petunjuk“
QS.50, Qaaf: 7 “Dan Kami hamparkan bumi itu, Kami dirikan gunung-gunung untuk penenang dan Kami tumbuhkan tumbuhan yang indah dipandang“
QS.18, Al Kahfi: 90 “Akhirnya ia (Zulkarnain) sampai di tempat terbitnya matahari, dilihatnya matahari menerangi suatu kaum yang berlum berpakaian“
QS.18, Al Kahfi: 86 “hingga apabila ia sampai ke tempat terbenamnya matahari, ia melihat matahari terbenam ke dalam laut hitam (warna airnya hitam). Disana ia bertemu dengan satu umat (yang masih primitif). Kami ilhamkan: “hai Zulkarnaen! kamu boleh menyiksa mereka atau engkau boleh berbuat baik kepada mereka“
QS.39, Az Zumar: 10 “Dan bumi Allah itu luas“
QS.51, Adz Dzaariyaat: 48 “Dan bumi Kami hamparkan. Maka sebaik-baik yang menghamparkan adalah Kami“
Imam Ghazali berkata: “Seandainya bumi ini bergetar dan bergerak, maka semua manusia tidak akan dapat mengerjakan pekerjaan dengan teliti, baik yang menyangkut tumbuh-tumbuhan maupun industri. Perhatikan hal itu pada gempa-gempa yang seringkali menimpa manusia dan memberikan perasaan takut bagi mereka agar bertaqwa kepada Allah“
Rasulullah SAW mengatakan: “Keliling bumi sejauh 2000 tahun perjalanan“
QS.21, Al Anbiyaa’: 30 “Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit-langit dan bumi dahulunya adalah satu kesatuan, kemudia keduanya Kami pisahkan“
QS.79, An Naazi’aat: 30 “Dan sesudah itu Dia menghamparkan bumi“
Nabi SAW bersabda: “Titik tengah bumi adalah Ka’bah”
Keadaan bumi dihamparkan bukanlah kiasan kata, ia adalah haqiqi yang mutlak kebenarannya.
Bisa kita logika sendiri apabila bumi ini bundar ditambah lagi berputar pada porosnya, bagaimana cara menentukan barat dan timurnya? lantas dimana atas dan dimana bawah? bagaimana juga dengan langit berlapis 7 dan bumi berlapis 7?
Bila kita kurang yakin dengan ayat-ayat yang telah diterangkan di atas, maka tanyakan langsung kepada Allah, karena Allah yang menciptakan langit dan bumi ini, yakni melalui sholat tahajud dengan hati yang suci dan bersih.
QS.25, Al Furqaan: 59 “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy (orang-orang yang sholat tahajud di malam hari semata-mata karena Allah), (Dia-lah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah tentang itu kepada Yang Maha Mengetahui.“
QS.16, An Nahl: 43 “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (yakni orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang nabi dan kitab-kitab) jika kamu tidak mengetahui.“
QS.21, Al Anbiyaa’: 7 “Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.“
“Tanyakan kepada Yang Maha Mengetahui (hal ini), bila kalian tidak mengetahui“
Sumber: Latiful-Qalb ‘Ciptaan-Nya’ oleh H.MNA